PENATIMES – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bulukumba terus mendorong penguatan sektor industri kecil dan menengah berbasis potensi lokal melalui berbagai program peningkatan kapasitas pelaku usaha.
Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui pelatihan pengembangan desain bagi pengrajin tenun Bira yang digelar di Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) Bira.
Kegiatan tersebut diikuti belasan pengrajin tenun yang mendapatkan bimbingan langsung dari praktisi sekaligus pengusaha kriya nasional Bustan Effendi yang akrab disapa Mas Vinto.
Pelatihan yang mendapat dukungan Bank Sulselbar itu berlangsung selama lima hari mulai Senin hingga Jumat, 9 sampai 13 Maret 2026.
Materi yang diberikan meliputi pengenalan teknik dasar desain, penyusunan konsep pola, hingga praktik pembuatan berbagai produk turunan tenun seperti selendang dan syal.
Pelatihan Desain Buka Peluang Inovasi Tenun Bira
Bustan Effendi menilai tenun Bira merupakan produk kerajinan lokal yang masih menjaga keaslian corak tradisionalnya.
Ia menjelaskan salah satu tantangan yang dihadapi pengrajin saat ini adalah motif tenun yang masih cenderung berulang sehingga perlu sentuhan desain baru.
“Saya diundang ke sini untuk membantu pengembangan desain motif baru tenun Bira ini karena Dekranasda berharap lahir corak yang lebih modern,” ujar Vinto.
Ia menambahkan pengembangan motif tidak dimaksudkan menggantikan corak tradisional, melainkan memperkaya variasi desain agar produk lebih mudah diterima pasar yang lebih luas.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu membuka peluang penggunaan tenun Bira dalam berbagai produk fesyen modern.
Dalam pelatihan tersebut peserta juga diperkenalkan teknik pembuatan motif gradasi warna yang dapat diaplikasikan pada produk selendang.
Menurut Vinto, desain yang lebih variatif berpotensi menarik minat generasi muda untuk menggunakan produk tenun dalam berbagai gaya busana.
Salah seorang penenun, Tasmawati, mengungkapkan pelatihan tersebut memberikan pandangan baru bagi para pengrajin mengenai pengembangan motif tenun.
Ia mengaku selama ini para penenun cenderung mempertahankan motif lama sehingga belum banyak mencoba corak yang lebih modern.
Tasmawati berharap keterampilan yang diperoleh dari pelatihan tersebut dapat melahirkan motif baru tanpa meninggalkan corak tradisional yang sudah dikenal masyarakat.
Ketua Dekranasda Bulukumba Andi Herfida Muchtar menyatakan pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia pelaku usaha kerajinan di daerah tersebut.
Ia menilai peningkatan kemampuan desain menjadi salah satu langkah penting agar produk kriya Bulukumba mampu bersaing dengan produk dari berbagai daerah lain.
Bulukumba sebagai salah satu destinasi wisata juga dinilai memiliki peluang besar untuk memasarkan berbagai produk kerajinan lokal.
Pengembangan desain produk tenun diharapkan mampu menyesuaikan selera pasar tanpa menghilangkan nilai budaya yang menjadi ciri khas daerah.
Tenun Bira bersama Tenun Kajang dan Kopi Arabika Kahayya sebelumnya telah memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Pengakuan tersebut menegaskan bahwa ketiga produk tersebut memiliki karakteristik khas yang berkaitan erat dengan kondisi geografis serta tradisi masyarakat Bulukumba.






