DAERAH  

Warga Soroti Kendaraan Bising Sahur On The Road di Bulukumba

Avatar photo
Ilustrasi Sahur On The Road kendaraan bising.
Ilustrasi Sahur On The Road kendaraan bising.

PenaTimes.com – Sejumlah warga di Kabupaten Bulukumba menyoroti maraknya aktivitas membangunkan sahur dengan volume suara tinggi yang dilakukan sejak dini hari, bahkan mulai sekitar pukul 02.00 WITA.

Aktivitas ini dinilai mengganggu kenyamanan masyarakat, terutama saat waktu istirahat malam atau sedang beribadah malam di bulan Ramadan 1447 Hijriah.

Warga menegaskan bahwa tradisi membangunkan sahur sejatinya merupakan bagian dari ibadah dan solidaritas sosial selama Ramadan.

Keterlibatan anak muda dan semangat kebersamaan dinilai sebagai hal positif.

Baca Juga:  RUMPUN Bulukumba Berbagi Berkah Ramadan untuk Dhuafa

Namun, penggunaan pengeras suara berlebihan, konvoi kendaraan, hingga knalpot bising dinilai melampaui batas tujuan awal membangunkan sahur.

“Kalau suaranya terlalu keras, itu bukan lagi membangunkan, tapi memaksa orang terbangun,” ujar Bang Jek, salah satu warga.

Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada kelompok rentan seperti bayi, lansia dengan penyakit jantung.

“Kan dampaknya mengganggu kalau tengah malam, kita membutuhkan istirahat,” tambahnya.

Warga mengingatkan bahwa Ramadan merupakan bulan menahan diri, tidak hanya dari lapar dan haus, tetapi juga dari emosi dan ego.

Baca Juga:  Ini Besaran Zakat Fitrah 2026 di Bulukumba

Warga lainnya Iwan mengaku terganggu dengan sahur yang masih pagi seharusnya jelang subuh.

Semangat ibadah saat ini kata Iwan diharapkan tetap disertai dengan adab dan kepedulian terhadap hak orang lain.

Solusi Sahur On The Road

Sebagai solusi, warga menyarankan agar kegiatan sahur keliling dilakukan mendekati waktu sahur.

“Misalnya mulai pukul 03.30 WITA, dengan koordinasi yang baik, tertib, dan tanpa kebisingan berlebihan,” ajak Bang Jek.

Sementara Iwan berharap agar aparat kepolisian turut ikut menertibkan kendaraan suara bising saat Sahur On The Road.

Baca Juga:  Tembak-Tembakan Peluru Plastik Marak di Bulukumba

“Ketenangan masyarakat juga dilindungi oleh aturan hukum terkait ketertiban umum, termasuk larangan kebisingan yang mengganggu kenyamanan warga pada waktu istirahat malam, terutama jika dilakukan secara berulang dan tidak terkoordinasi,” tegas Bang Jek.

Warga berharap semangat Ramadan tidak diwujudkan melalui kebisingan, melainkan melalui kepekaan sosial dan saling menghormati.

“Ramadan bukan lomba siapa paling terdengar, tapi latihan menjadi manusia yang lebih peka,” tutupnya. ***