PENATIMES, JAKARTA — Kementerian Kehutanan mencatat lonjakan tajam titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional menjadi 331 titik per Sabtu (26/9/2026) pukul 21.15 WIB, di mana lonjakan terbesar terjadi di Kalimantan Selatan dari 6 menjadi 40 titik. Peningkatan nasional sebanyak 118 titik dalam 24 jam terakhir ini memicu penurunan jarak pandang penerbangan hingga 0,6 kilometer di Palangka Raya dan 1,7 kilometer di Banjarmasin akibat kabut asap pekat.
Eskalasi Titik Panas Enam Provinsi Prioritas
Dari total akumulasi nasional yang dipantau melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 via sistem SiPongi, enam provinsi prioritas menyumbang 111 titik panas high confidence. Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan mencatatkan kenaikan signifikan, masing-masing 40 titik (naik dari 6) dan 38 titik (naik dari 17).
Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat 30 titik (turun dari 57), Kalimantan Barat 2 titik (turun dari 14), Jambi 1 titik, dan Riau terpantau nihil.
Pihak Kementerian Kehutanan mengonfirmasi bahwa indikasi anomali suhu permukaan bumi hasil pencitraan satelit tersebut tidak serta-merta mencerminkan jumlah luas area terbakar. “Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi menjadi lebih dari satu hotspot. Jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas area terbakar, sehingga seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan (groundcheck),” tulis rilis resmi Kementerian Kehutanan.
+---------------------+-------------------+--------------------+
| Provinsi Prioritas | Hotspot (25/9/26) | Hotspot (26/9/26) |
+---------------------+-------------------+--------------------+
| Kalimantan Selatan | 6 titik | 40 titik |
| Sumatera Selatan | 17 titik | 38 titik |
| Kalimantan Tengah | 57 titik | 30 titik |
| Kalimantan Barat | 14 titik | 2 titik |
| Jambi | 1 titik | 1 titik |
| Riau | 0 titik | 0 titik |
+---------------------+-------------------+--------------------+
Mobilisasi Armada Udara dan Operasi Gambut
Guna memadamkan api yang meluas, pemerintah mengoperasikan 61 armada udara. Sebanyak 55 unit disiagakan di enam provinsi prioritas, terbagi atas 17 unit untuk patroli serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan 44 unit khusus water bombing. Enam armada water bombing sisanya dialokasikan ke wilayah terdampak lain.
Operasi udara berjalan seiring dengan pemadaman darat yang melibatkan Manggala Agni, BNPB, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan sektor swasta melalui skema mopping up, pembuat sekat bakar, serta pembasahan berkelanjutan.
Fokus penanganan difokuskan pada kawasan lahan gambut. Karakteristik pembakaran bawah permukaan (smoldering) pada tanah gambut berpotensi menyimpan bara api berhari-hari di bawah lapisan tanah dan dapat menyala kembali saat terpaan angin menguat dan kelembapan menurun.
Dampak Kualitas Udara dan Ancaman Satwa
Data BMKG menunjukkan dampak asap karhutla menurunkan jarak pandang pada dini hari di beberapa wilayah:
-
Palangka Raya: 0,6 kilometer (berasap)
-
Banjarmasin: 1,7 kilometer (berasap)
-
Pontianak: 2 kilometer (berasap)
-
Jambi: 4,8 kilometer (berasap)
-
Pekanbaru: 3 kilometer (hujan ringan)
-
Palembang: 7 kilometer (berawan)
Meskipun indeks PM2,5 nasional mayoritas berada di kategori baik hingga sedang, beberapa titik di Kalimantan dan Sumatera telah memasuki kategori tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya.
Secara hukum, UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup secara ketat melarang pembukaan lahan dengan cara membakar (zero burning policy) dengan ancaman pidana penjara hingga 10 tahun dan denda maksimal Rp10 miliar.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat rentan—seperti anak-anak, lansia, dan penderita ISPA—untuk membatasi aktivitas luar ruang dan menggunakan masker standar. Selain itu, warga yang menemukan satwa liar yang keluar dari habitatnya akibat kebakaran diminta tidak melakukan penanganan mandiri, melainkan segera menghubungi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat.**






