PENATIMES, JAKARTA — Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia meresmikan kediaman maestro seni legendaris Bing Slamet sebagai museum publik di Jalan Arimbi Nomor 7, Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, Minggu (27/9/2026). Peresmian yang dipimpin Menteri Kebudayaan Fadli Zon ini bertepatan dengan peringatan Hari Komedi Nasional serta hari lahir Bing Slamet yang ke-99.
Langkah ini memperkuat upaya perlindungan warisan budaya takbenda dan fisik, mengingat Bing Slamet—yang bernama asli Ahmad Ehsan—merupakan tokoh pelopor hiburan modern Indonesia yang aktif sejak era kemerdekaan hingga membentuk grup Seniman Panggung Ekor Golok dan Kelompok Tiga Musketir bersama Kris Biantoro serta Eddy Sud.
Markas Kreatif Era 1950-an Ditata Jadi Enklaf Budaya
Bangunan rumah peninggalan Bing Slamet dipertahankan sesuai struktur dan arsitektur aslinya melalui proses renovasi ringan oleh Direktorat Sejarah dan Permuseuman. Rumah tersebut menyimpan catatan sejarah sebagai ruang diskusi dan tempat berkumpulnya para seniman serta budayawan nasional pada dekade 1950-an hingga 1970-an, termasuk maestro biola Idris Sardi.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa kementerian mendorong keberadaan museum ini agar berkembang menjadi enklaf budaya terpadu di kawasan Johar Baru.
“Rumah ini adalah tempat perjumpaan, dialog, dan diskusi para seniman budayawan di zaman itu. Yang paling penting masyarakat di sini mendukung supaya museum ini menjadi pusat budaya, tempat belajar, mengapresiasi, dan memberikan inspirasi lahirnya seniman baru di masa mendatang,” ujar Fadli Zon di lokasi peresmian.
Bagian dari Program Revitalisasi 200 Museum Nasional
Direktur Jenderal Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Restu Gunawan, melaporkan bahwa penataan Museum Bing Slamet merupakan bagian dari target pembenahan sekitar 200 museum dan cagar budaya di seluruh Indonesia sepanjang tahun 2026. Pembangunan fasilitas ini diawali saat penetapan Hari Komedi Nasional pada 2025.
Perwakilan keluarga, Adi Bing Slamet, mengapresiasi pengalihan fungsi kediaman keluarga tersebut menjadi fasilitas umum. Menurutnya, rumah tersebut memegang peran historis sebagai markas lintas generasi seniman Indonesia.
“Mengubah kediaman ini menjadi museum menghidupkan kembali kehangatan dan semangat itu. Rumah ini dibuka untuk publik bukan hanya untuk mengenang Bing Slamet, tetapi merayakan sejarah kebersamaan insan seniman Indonesia,” tutur Adi.
Delapan Zona Pameran dan Fasilitas Interaktif Modern
Museum Bing Slamet terbagi dalam delapan area pameran yang merangkum fase kehidupan sang maestro, meliputi masa kecil, karier musik, dunia komedi, sinematografi, memori keluarga, jejaring kesenian, rekam jejak perjuangan kemerdekaan, hingga ruang apresiasi publik.
Koleksi materi yang dipamerkan mencakup barang peninggalan asli seperti gitar, piringan hitam, piagam penghargaan, dokumen surat pribadi, pakaian tampil, dan foto keluarga. Narasi sejarah didukung sarana interaktif berbasis teknologi, antara lain:
-
Perangkat radio vintage dan pelantun suara (headphone) era lawas.
-
Instalasi stasiun pengisian foto berbasis AI (AI photo booth).
-
Studio rekaman sulih suara (dubbing).
-
Peta digital navigasi Jakarta tempo dulu.
Selain pameran permanen, kompleks museum menyediakan area pertunjukan seni yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan komunitas kreatif lokal.
Kegiatan peresmian ini turut dihadiri Anggota DPD RI Alfiansyah Bustami (Komeng), Wali Kota Jakarta Pusat Arifin, Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana, serta jajaran seniman senior seperti Jarwo Kwat, Toto Muryadi (Tarzan Srimulat), dan Anwar Fuadi.*






