PENATIMES, JAKARTA — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menerapkan tiga langkah strategis baru dalam penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) untuk merespons perubahan perilaku masyarakat pada ekosistem digital. Evaluasi komunikasi lembaga filantropi kini dialihkan dari jangkauan publikasi (reach) menuju indikator kepercayaan dan tingkat retensi donatur.
Berdasarkan data BAZNAS, potensi dan target penghimpunan ZIS secara nasional terus meningkat setiap tahun seiring meluasnya penggunaan kanal pembayaran digital. Namun, keberhasilan transparansi digital kini tidak lagi diukur dari tingginya lalu lintas (traffic) situs web atau interaksi media sosial semata, melainkan dari kepastian terjadinya transaksi donasi berulang (repeat donation).
Tiga Langkah Integrasi Data dan Pengukuran Kredibilitas
Kepala Divisi Pengumpulan Digital BAZNAS RI, Fahrudin, menyatakan bahwa lembaga filantropi perlu melakukan integrasi data secara menyeluruh antara fungsi komunikasi, saluran digital, dan divisi fundraising.
Langkah pertama yang diterapkan adalah Connect the Data, yakni menyatukan data media, donatur, serta perolehan dana ke dalam satu sistem terintegrasi.
“Komunikasi dan fundraising perlu dipandang sebagai satu perjalanan yang saling terhubung, bukan sebagai dua fungsi yang berjalan secara terpisah,” tegas Fahrudin dalam forum NGO Communication Strategic Direction for 2027 yang digelar secara daring.
Langkah kedua, Measure Trust, berfokus pada penyusunan indikator pengukuran kredibilitas pesan, sentimen publik, akuisisi, hingga nilai seumur hidup donatur (donor lifetime value). Kerangka ini memetakan tahapan masyarakat dari menarik perhatian (attention), membangun kepercayaan (trust), hingga terciptanya hubungan jangka panjang.
Adapun langkah ketiga, Turn Data into Decision, menuntut setiap laporan analitik dapat menghasilkan keputusan taktis terkait alokasi anggaran, penetapan kanal komunikasi, dan penentuan target audiens.
Reorientasi Indikator Keberhasilan Penghimpunan ZIS
BAZNAS mencatat bahwa metrik standar seperti click-through rate (CTR), jangkauan media, dan tingkat interaksi (engagement) harus ditindaklanjuti dengan analisis konversi keuangan yang nyata.
“Yang kita ukur bukan hanya apakah masyarakat melihat kita, tetapi apakah komunikasi membantu masyarakat percaya kepada kita. Karena pada akhirnya, kepercayaan menjadi salah satu faktor yang memungkinkan masyarakat untuk memberikan dukungan,” kata Fahrudin.
Pengukuran komunikasi filantropi ke depan diwajibkan menggabungkan bukti kuantitatif dan kualitatif guna menghubungkan persepsi publik dengan aksi penyaluran dana ZIS secara berkelanjutan.**






