PENA Times – Media pemerintah Iran mengonfirmasi meninggalnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam rangkaian serangan militer yang masih berlangsung oleh Amerika Serikat dan Israel.
Dalam laporan resminya, media negara Iran menyebut Khamenei gugur dan menyematkan status “syahid” atas kematiannya di tengah eskalasi konflik.
Selain Khamenei, serangan tersebut juga menewaskan putrinya, menantu laki-lakinya, serta seorang cucunya, sebagaimana diumumkan oleh kantor berita pemerintah Iran.
Kabar kematian Khamenei muncul beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan publik yang mengisyaratkan telah mengetahui sosok pengganti pemimpin tertinggi Iran.
Trump juga menegaskan bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran akan terus berlanjut selama dianggap diperlukan.
Transisi Kekuasaan Iran
Berdasarkan konstitusi Iran, wafatnya pemimpin tertinggi secara otomatis memicu pembentukan dewan kepemimpinan sementara.
Dewan tersebut akan diisi oleh Presiden Iran, Kepala Lembaga Yudikatif, serta satu ulama yang berasal dari Dewan Garda, guna menjalankan roda pemerintahan.
Pemerintah Iran sekaligus menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari untuk mengenang wafatnya Ali Khamenei beserta anggota keluarganya.
Di sisi lain, militer Israel mengumumkan gelombang baru serangan udara ke wilayah Iran barat dan tengah dalam beberapa jam terakhir.
Pihak Israel menyebut lebih dari 30 target strategis telah dihantam, termasuk sistem pertahanan udara dan fasilitas rudal balistik.
Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyatakan bahwa puluhan jet tempur Angkatan Udara dikerahkan dengan dukungan intelijen militer.
Israel menegaskan serangan akan terus diarahkan ke instalasi pertahanan, markas militer, serta sasaran yang dikategorikan sebagai aset rezim Iran.
Sementara itu, laporan serangan balasan Iran juga muncul dari wilayah Uni Emirat Arab dan Bahrain, menandai meluasnya dampak konflik regional.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa salah satu tujuan utama operasi militer ini adalah membuka jalan bagi perubahan kekuasaan di Iran.
Namun, keputusan tersebut memicu tekanan politik yang signifikan terhadap Trump di dalam negeri, termasuk dari oposisi di Kongres AS.
Sejumlah anggota Kongres, mayoritas dari Partai Demokrat dan beberapa Republik, menilai Trump telah melangkahi kewenangan legislatif terkait deklarasi perang.
Penentangan juga datang dari sebagian pendukung gerakan MAGA yang menilai keterlibatan AS dalam konflik Iran-Israel sebagai langkah berisiko tinggi.
Dinamika politik di Washington diperkirakan akan sangat bergantung pada perkembangan situasi di Iran dalam beberapa hari ke depan.






