“Menyalakan suluh peradaban dari tanah Pasundan, Presiden Prabowo meresmikan asa lewat gerbang baru pendidikan tanpa beban biaya”
PENATIMES, CIMAHI — Angin pagi di tanah Pasundan membawa serta aroma lembar-lembar buku yang baru dibuka. Di bawah langit Kota Cimahi yang membentang luas, sebuah mercusuar ilmu pengetahuan resmi berdiri tegak, menyapa masa depan dengan debar harapan yang menyala-nyala, Jumat (30/10/2026).
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menggoreskan lembaran baru sejarah pendidikan nasional. Orang nomor satu di negeri ini hadir untuk meresmikan secara khidmat kehadiran SMA Taruna Nusantara Kampus Cimahi di Jawa Barat.
Perjalanan Panjang Menembus Waktu
Langkah tegap ini bukanlah akhir, melainkan sebuah babak segar dari sebuah perjalanan panjang yang dirintis sejak tiga dekade silam. Bermula dari satu titik di Magelang pada tahun 1990, lembaga kawah candradimuka ini telah melahirkan deretan kesatria muda pemikir bangsa.
Kini, dalam rentang dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo, denyut nadi pembangunan institusi ini berdetak semakin kencang. Lima kampus baru dihadirkan serentak untuk merajut kepulauan nusantara dalam satu simpul kualitas pendidikan yang setara.
Konstelasi Enam Penjuru Angin Nusantara
Dengan diresmikannya kampus di Cimahi, konstelasi rasi bintang pendidikan karakter ini kian benderang. Jaringan SMA Taruna Nusantara kini merentang megah di enam titik strategis ibu pertiwi.
Mulai dari Magelang di Jawa Tengah, Malang di Jawa Timur, hingga Cimahi di Jawa Barat. Rangkaian ini turut merangkul Pagar Alam di Sumatera Selatan, kemegahan Ibu Kota Nusantara (IKN), hingga tanah sejuk Langowan di Sulawesi Utara.
Menghapus Resah, Membuka Gerbang Tanpa Beban
Namun, kemegahan fisik bangunan belumlah seberapa jika dibandingkan dengan jiwa kebijakan yang menyertainya. Pemerintah melangkah melampaui bata dan semen, menghapus setiap keluh kesah finansial dari pundak para pencari ilmu.
Seluruh peserta didik kini dapat menimba pengetahuan di kawah candradimuka ini tanpa sehelai beban biaya sekolah. Kebijakan pendidikan gratis ini menjadi titian emas yang memastikan bahwa mimpi besar tidak pernah mati hanya karena keterbatasan dompet.
Menatap Hari Esok dengan Jiwa Kesatria
Peresmian hari ini bukan sekadar seremoni gunting pita di atas panggung megah. Ia adalah janji suci negara kepada anak-anak didiknya: bahwa kecerdasan dan integritas adalah hak milik setiap anak bangsa, bukan milik mereka yang berpunya.
Dari tanah Cimahi, gelombang optimisme itu kini berderap. Membentuk barisan generasi muda yang tangguh secara akal budi, berakar pada cinta tanah air, dan siap menakhodai bahtera Indonesia menuju dermaga kejayaan.*






