OPINI  

Strategi Mosaic Defence (Doktrin Pertahanan Mozaik) Iran

Avatar photo
Rakyat Iran. Foto Press Tv
Rakyat Iran. Foto Press Tv

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran. Rencananya sebenarnya sederhana dan sudah berkali-kali dipakai sebelumnya: membunuh pemimpin tertinggi, melumpuhkan struktur komando, lalu menunggu rezim runtuh dari dalam. Setelah itu, biasanya masyarakat akan didorong untuk mengambil alih kekuasaan.

Model seperti ini pernah berhasil di beberapa tempat. Irak runtuh setelah Saddam Hussein digulingkan. Libya jatuh setelah Muammar Gaddafi dibunuh. Suriah hampir mengalami nasib serupa ketika Bashar al-Assad terpaksa melarikan diri. Bahkan Venezuela sempat berada di ambang skenario yang sama beberapa waktu lalu.

Namun ketika strategi yang sama diterapkan terhadap Iran, hasilnya berbeda. Rencana itu gagal.

Alasannya sederhana: Iran telah menghabiskan dua dekade untuk mempelajari cara Amerika berperang.

Ketika Irak dihancurkan, Iran memperhatikan dengan sangat teliti. Ketika Libya runtuh, para perencana militer Iran mencatat setiap detailnya. Ketika Suriah menjadi medan intervensi internasional, mereka menjadikannya sebagai pelajaran strategis.

Salah satu tokoh penting dalam proses pembelajaran ini adalah Jenderal Mohammad Ali Jafari dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Ia mengamati satu pola yang konsisten dalam operasi militer Amerika: rezim yang sangat terpusat dapat dihancurkan dengan cepat melalui strategi “decapitation strike” — memotong kepala kepemimpinan sehingga seluruh sistem runtuh dalam waktu singkat.

Baca Juga:  Serangan AS-Israel ke Sekolah Iran, 148 Orang Gugur

Dari pengamatan itulah muncul satu pertanyaan kunci:
Jika strategi seperti ini diterapkan terhadap Iran, apa yang harus dilakukan?

Jawaban yang kemudian lahir dikenal sebagai Doktrin Pertahanan Mosaik.

Konsepnya sederhana tetapi sangat strategis. Bayangkan sebuah mosaik yang terdiri dari ratusan keping kecil. Masing-masing berdiri sendiri, tetapi bersama-sama membentuk satu gambar besar.

Iran kemudian mereorganisasi struktur IRGC menjadi 31 komando wilayah: satu untuk Teheran dan tiga puluh lainnya untuk setiap provinsi. Tujuannya adalah memecah konsentrasi kekuasaan militer agar tidak bergantung pada satu pusat komando saja.

Setiap wilayah memiliki kapasitas militernya sendiri—rudal, drone, intelijen, dan sistem komando yang relatif otonom. Dengan demikian, jika komunikasi dengan pusat di Teheran terputus, unit-unit ini tetap dapat beroperasi secara mandiri.

Seorang analis pertahanan pernah menjelaskan konsep ini dengan sangat jelas:
setiap provinsi adalah sebuah mosaik kecil yang memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri. Artinya, bahkan jika kepemimpinan pusat dihancurkan, struktur militer tetap berfungsi.

Inilah yang membuat strategi “pemenggalan kepala” tidak bekerja di Iran.

Doktrin militer Amerika selama ini sangat bergantung pada satu asumsi: temukan pusat komando, hancurkan kepemimpinannya, maka sistem akan runtuh. Namun sistem mosaik Iran justru dirancang untuk mencegah hal itu terjadi.

Baca Juga:  Tiba di AS, Presiden Prabowo Dijadwalkan Bertemu Trump

Dalam model ini, tidak ada satu pusat yang menentukan segalanya. Jika satu bagian dihancurkan, bagian lain tetap beroperasi. Seperti mitologi Hydra, memotong satu kepala justru memunculkan kepala baru.

Itulah sebabnya pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Iran pada hari pertama perang tidak menghasilkan efek yang diharapkan. Dalam hitungan jam, aksi pembalasan sudah dilakukan. Dalam hitungan hari, kepemimpinan baru muncul dan operasi militer Iran berjalan jauh lebih masif, seperti singa terluka yang marah dan bertekad menuntut balas atas kejahatan para agresor.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka menyatakan bahwa Iran telah belajar dari dua puluh tahun perang Amerika di kawasan sekitar mereka. Menurutnya, pemboman terhadap ibu kota Iran tidak otomatis menghentikan kemampuan negara itu untuk berperang, karena sistem pertahanannya memang didesain untuk tetap berfungsi meskipun kepemimpinan pusat diserang.

Di sinilah kita melihat perbedaan cara berpikir dalam strategi perang. Bagi Amerika dan Israel, kemenangan biasanya berarti menghancurkan struktur negara lawan secepat mungkin. Tetapi bagi Iran, tujuan perang tidak selalu harus kemenangan militer yang cepat. Kadang yang lebih penting adalah membuat perang menjadi sangat mahal bagi lawan.

Baca Juga:  Mengejutkan! Media Israel Ramai Beritakan Pasukan Indonesia di Jalur Gaza

Perang yang panjang, mahal, dan tidak populer seringkali memaksa pihak yang lebih kuat untuk mundur.

Inilah inti dari doktrin mosaik: bukan sekadar bertahan, tetapi membuat musuh kehilangan selera untuk melanjutkan perang.

Karena itu para pemimpin Iran sejak awal menegaskan bahwa tujuan mereka tidak hanya membalas serangan, tetapi juga mengubah keseimbangan keamanan di kawasan. Tokoh senior IRGC Iran, Mohsen Rezai, bahkan secara terbuka menyatakan perang akan berakhir jika Iran mendapatkan jaminan 100% keamanan. Namun, keamanan di kawasan tidak mungkin tercapai selama Amerika tetap mempertahankan kehadiran militernya di Teluk Persia. Artinya, bagi Iran, perang hanya akan berakhir jika AS keluar dari Timur Tengah.

Saat ini tanda-tandanya sudah kelihatan: kemarin (14/3), AS sudah kehilangan Irak. Radar Saab Giraffe 1X, yang digunakan untuk pertahanan udara C-RAM, telah hancur. Zona Hijau (kawasan seputar kompleks kedutaan yang diduduki AS selama ini) sekarang hampir tidak memiliki pertahanan udara. AS sudah menyarankan seluruh warga AS di Irak untuk segera keluar dari negara itu.

Selanjutnya, kita nantikan.

(terinspirasi dari tulisan Robert Kiyosaki)

 

Dr. Dina Y. Sulaeman adalah Pakar Geopolitik Timur Tengah, dosen Hubungan Internasional (HI) di Universitas Padjadjaran (Unpad)