PENATIMES, JAKARTA — Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan mencatat lonjakan harga bawang merah di tingkat petani Brebes sebesar 10 persen hingga menembus angka Rp22.000 per kilogram pada pemantauan pasar terbaru. Kenaikan tajam ini terjadi di tengah kondisi rata-rata harga komoditas pertanian dan perkebunan nasional yang relatif stabil.
Fluktuasi pasokan akibat perubahan iklim mikro serta transisi musim tanam di Jawa Tengah disinyalir menjadi faktor penentu dinamika stok bawang merah di pasar induk. Meski demikian, kenaikan di tingkat produsen ini memberi ruang jmargin yang lebih memadai bagi petani lokal Brebes yang sebelumnya menghadapi ketidakpastian harga.
Rincian Harga Rempah dan Kopi Bernilai Tinggi
Di luar sektor holtikultura bawang merah, kelompok komoditas bernilai tinggi terpantau bertahan pada level harga tertinggi. Data Bappebti menunjukkan komoditas kopi dan rempah tidak mengalami penurunan angka penjualan dari tingkat petani:
-
Lada Putih (Bangka): Rp146.000 per kg
-
Kopi Spesial (Subang): Rp125.000 per kg
-
Kopi Robusta (Subang): Rp87.000 per kg
Stabilitas Pangan dan Komoditas Perkebunan Nasional
Stabilitas rantai pasok tecermin pada komoditas perkebunan strategis dan pangan pokok lainnya. Bappebti mencatat pergerakan harga komoditas utama di berbagai daerah produksi berada pada rentang aman.
Tembakau asal Malang mencatatkan variasi harga berdasarkan jenisnya, yaitu Tembakau Kasturi sebesar Rp90.000 per kg, Tembakau Boyolali Rp85.000 per kg, Tembakau Burley Rp74.000 per kg, dan Tembakau Madura Rp54.300 per kg. Sementara itu, kakao di Kendari bertahan pada tingkat Rp55.000 per kg.
Untuk komoditas karet di wilayah Jambi dan Kuantan Singingi, transaksi berada pada kisaran Rp15.295 hingga Rp16.000 per kg. Komoditas pokok seperti gabah di Cianjur tercatat sebesar Rp8.000 per kg, jagung di Tasikmalaya Rp5.500 per kg, dan kelapa sawit di Sumatera Selatan berada di posisi Rp3.851 per kg.
Laporan pemantauan berkala dari Bappebti ditujukan guna mendorong transparansi harga, sehingga posisi tawar petani di rantai distribusi nasional tetap terjaga.*






