“Di antara dinginnya prosedur medis dan hangatnya doa, helai kain kafan dirangkai demi memuliakan martabat manusia yang berpulang.”
PENATIMES, BULUKUMBA – Di batas akhir perjalanan seorang manusia, tugas medis tidak lantas purna saat denyut nadi berhenti. Ada jeda hening tempat penghormatan terakhir harus ditunaikan dengan cermat, aman, dan penuh kesucian.
Menyadari betapa sakralnya detik-detik tersebut, RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba mengaitkan ketelitian prosedur medis dengan kedalaman syariat Islam melalui In House Training (IHT) Penyelenggaraan Jenazah pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Suasana Masjid Nurul Afiat yang tenang di kompleks rumah sakit menjadi saksi paduan dua ruang baktil: ruang medis yang steril dan ruang ibadah yang khusyuk.
Perisai Kebersihan: Saat Infeksi Dicegah dengan Ketat
Sesi awal pelatihan tidak langsung menyentuh kain kafan, melainkan membentengi para petugas dengan pengetahuan keselamatan. Hasriani, S.Kep., Ns., mewakili Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), menegaskan bahwa jenazah tetap memerlukan perlakuan biologis yang aman.
“Tangan yang mengusap dan memandikan harus terlindungi, agar batas antara duka dan keselamatan tetap terjaga utuh,”
Melalui pemaparan materi PPI, sebanyak 26 peserta yang terdiri atas petugas kamar jenazah dan pengurus masjid dibekali pemahaman mendalam. Setiap bilasan air dan balutan kain harus berjalan selaras dengan standar akreditasi serta protokol keselamatan kerja.
Sentuhan Syariat: Memuliakan Martabat Manusia
Usai sains memaparkan perisainya, giliran Ustadz Rahmat Husain dari Seksi Kerohanian yang menuntun langkah spiritual para peserta. Ia memaparkan persiapan alat, bahan, hingga tata cara pemulasaraan yang sahih menurut tuntunan agama.
Pelatihan dilanjutkan dengan peragaan langsung (demonstrasi). Jemari para peserta dilatih mengukur kain, memandikan dengan lembut, hingga membalut jenazah secara rapi—mengubah prosedur teknis menjadi ritual pengabdian yang emosional.
Pelatihan ini turut disaksikan oleh Arman Khadafi, Pejabat Fungsional Bidang SDM, Penelitian dan Pengembangan RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba. Dalam arahannya, ia menegaskan pentingnya keseimbangan antara kapabilitas teknis dan kepekaan nurani.
“Penyelenggaraan jenazah bukan sekadar rutinitas penanganan jasad, melainkan ibadah puncak yang menuntut rasa hormat, kepedulian, dan jaminan keamanan bagi semua yang terlibat,” tutur Arman Khadafi.
Melalui kolaborasi erat antara pihak rumah sakit dan pengurus masjid ini, RSUD Bulukumba tidak hanya memperkuat mutu pelayanan kesehatan modern, tetapi juga menjaga kehangatan empati kemanusiaan di ruang paling hening sekalipun.*






