Jerit Sayup Bayi Nakla di Loka: Ujian Nurani dan Taut Pelukan Jaring Pengaman Sosial Bulukumba

Avatar photo
Foto: kondisi kesehatan bayi dalam penanganan medis emergency RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba/Penatimes/

“Di balik duka dan derita fisik, senyum kecil bayi Nakla memanggil hangatnya kepedulian bersama dari pesisir Bulukumba.”

PENATIMES, BULUKUMBA – Sebuah gubuk redup di Kelurahan Loka, Kecamatan Ujungbulu, menjadi saksi bisu betapa getirnya takdir menimpa bayi Nakla. Di usianya yang masih sangat muda, Nakla harus kehilangan kehangatan pelukan ibunya yang berpulang sepuluh hari usai melahirkannya ke dunia.

Sementara sang ayah mengadu nasib di negeri orang, Jemari renta Raniah—sang nenek—menjadi satu-satunya benteng perlindungan. Dengan memungut kerang, menganyam rumput laut, hingga memeras keringat sebagai buruh tani saat musim panen, Raniah berjuang merawat sang cucu di tengah serba keterbatasan.

Visual Utama & Ilustrasi

Jejak Sakit dan Uluran Tangan di Ruang Perawatan

Namun, ketahanan fisik bayi mungil itu menembus batasnya. Sepuluh hari sebelum pertolongan medis datang, tubuh kecil Nakla dihantam demam tinggi, kesulitan menerima asupan nutrisi, hingga mengalami kejang. Nestapa makin terasa ketika kejatuhan fisik yang pernah dialaminya menyisakan trauma tersembunyi.

Baca Juga:  Viral Hewan Langka Tarsius di Kindang Bulukumba

Terisolasi oleh keterbatasan dan kepasrahan, jerit sakit Nakla baru membentur ruang publik setelah sanak keluarga mengetuk hati para relawan. Selasa malam (20/10/2026), giliran sirene gawat darurat yang memecah keheningan kala Nakla dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja.

“Fokus utama kita saat ini adalah memastikan Nakla mendapatkan penanganan medis secara komprehensif dari dokter spesialis anak, termasuk percepatan pengurusan kepesertaan BPJS Kesehatan PBI yang ditanggung pemerintah,” tegas Plt. Kabid Humas Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kabupaten Bulukumba, Andi Ayatullah Ahmad.

Kini, di bawah pengawasan ketat tim medis dan dokter spesialis anak, napas Nakla yang sempat sesak akibat infeksi saluran pernapasan mulai dituntun menuju kestabilan.

Baca Juga:  Pasca Kebakaran, HMI Bulukumba Soroti Standar Kerja di Paduppa Resort

Meluruskan Narasi: Jejak Hadirnya Layanan Publik

Menanggapi berbagai tanggapan yang beredar di ruang siber, Pemerintah Kabupaten Bulukumba menegaskan bahwa kehadiran negara sejatinya telah merangkul keluarga ini jauh sebelum kabar duka menjadi tontonan layar kaca.

Raniah tercatat secara administratif sebagai penerima bantuan pangan berkala, sementara tumbuh kembang Nakla berada dalam pantauan kader Posyandu setempat. Pemkab memandang perlu meluruskan kronologi agar masyarakat mendapatkan perspektif yang utuh dan berimbang.

“Pemerintah kelurahan bersama kader Posyandu Loka selalu mendampingi secara berkala sebelum musibah sakit ini terjadi. Keluarga ini telah masuk dalam jaring pengaman sosial pemerintah,” jelas Andi Ayatullah.

Kejadian ini, sambung Andi Ayatullah, tidak hanya menjadi panggilan penanganan medis cepat, melainkan pula lecutan nurani untuk terus mengasah kepekaan sosial di tingkat tapak.

Baca Juga:  SDN 44 Dampang Terapkan Sistem Pemantauan Karakter Siswa

Membangun Benteng Kemanusiaan Lewat 606 Posyandu Era Baru

Peristiwa yang menimpa bayi Nakla menjadi momentum evaluasi bersama mengenai pentingnya deteksi dini pada kelompok masyarakat paling rentan. Sebagai langkah konkret pembenahan sistemik, Kabupaten Bulukumba kini mengoperasikan 606 Posyandu Era Baru yang tersebar hingga ke ceruk-ceruk desa.

Langkah strategis ini dirancang untuk mengubah wajah pelayanan dasar, memperluas jangkauan layanan, serta memastikan tidak ada lagi anak bangsa yang luput dari pengawasan tumbuh kembang maupun pertolongan darurat. Pemkab Bulukumba juga mengapresiasi uluran tangan Baznas serta para relawan lokal yang bahu-membahu meringankan beban hidup Raniah.

Pemerintah mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak tinggal diam ketika melihat kejanggalan atau penderitaan di sekitar lingkungan mereka. Komunikasi yang cepat antara warga, kader kesehatan, dan pemerintah setempat adalah kunci utama agar pertolongan tidak terlambat tiba.*