“Di bawah deru Kota Bulukumba, sepiring makanan hangat menjadi jematan sunyi yang mempertemukan nurani pengayom dan lelahnya warga.”
PENATIMES, BULUKUMBA — Pagi baru saja menjejak pelataran Kompleks Pasar Tua, Kota Bulukumba, Jumat (23/10/2026). Di antara aroma rempah, keriuhan pedagang, dan derak mesin bentor yang memecah udara, sebentuk kehangatan melingkupi sudut Posko Resmob.
Tak ada batas yang mengataskan seragam dan membawahkan warga. Hari itu, jalinan persaudaraan dirajut lewat kepulan uap makanan sederhana.
Melalui ruang bernama program Jumat Berkah, Polres Bulukumba menghadirkan oase kecil di tengah himpitan rutinitas warga. Ratusan porsi santapan hangat ditata rapi, menyiagakan senyum dan keramahan dari para personel Polisi Wanita (Polwan) serta Bhayangkari.
Sapa Tulus di Antara Ringkih Lelah
Gurat lelah di wajah para pengemudi bentor, kurir, pekerja harian, hingga petugas kebersihan seketika meluruh saat melangkah mendekat. Senyum tulus para Polwan yang mengajak warga singgah seolah meruntuhkan sekat formalitas yang selama ini sering kali kaku melingkupi institusi penegak hukum.
Di antara keriuhan tersebut, Kapolres Bulukumba AKBP Stephanus Luckyto, A.W., S.I.K., S.H., M.Si., tampak duduk membaur tanpa jarak. Dalam balutan suasana santai, ia menyimak tutur cerita para pedagang keliling dan pengemudi ojek yang singgah mengisi tenaga sebelum azan Jumat berkumandang.
“Setiap hari Jumat, kami menyiagakan ratusan porsi makanan gratis. Kami ingin berbagi, sekaligus menegaskan bahwa Polri selalu hadir sebagai bagian utuh dari nafas kehidupan masyarakat,” ujar AKBP Stephanus Luckyto di sela-sela kegiatan.
Merawat Nurani, Memperkuat Kepercayaan.
Bagi masyarakat pekerja bawah, kemewahan terkadang tidak diukur dari nilai, melainkan dari rasa dihargai. Pelayanan humanis yang menyertai setiap piring makanan menjadi penawar dahaga sosial di tengah teriknya perjuangan hidup perkotaan.
Kapolres menambahkan bahwa helatan sosial ini dirancang membentang saban pekan, dimulai sejak pukul 10.00 WITA hingga menjelang ibadah salat Jumat. Pihaknya membuka pintu seluas-luasnya bagi siapa saja yang melintas untuk singgah dan menikmati rezeki bersama.
“Bagi warga yang belum sempat sarapan atau sekadar ingin beristirahat sejenak, silakan datang. Kehadiran kami bukan hanya tentang menjaga ketertiban, tetapi juga merawat rasa kekeluargaan,” ungkapnya penuh harap.
Melalui ikhtiar sederhana ini, Polisi Bersama Masyarakat tak lagi sekadar menjadi slogan kaku di baliho kota. Di sudut Pasar Tua Bulukumba, tagline itu hidup dan bernyawa—ditiupkan lewat ketulusan sapa serta kehangatan sepiring makanan.*






