“Di antara dinginnya ruang perawatan, ketulusan meretas batas—menghadirkan hangat kasih bagi balita sebatang kara dan sang nenek.”
PENATIMES, BULUKUMBA — Dinding-dinding dingin ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD H.A. Sultan Daeng Radja, Kabupaten Bulukumba, mendadak luluh oleh kehangatan yang merayap perlahan pada Kamis (22/10/2026). Di balik selang dan moniter medis yang berdetak konstan, terbaring Nakla Safira—balita mungil berusia 1 tahun 2 bulan yang tengah mengeja perjuangan hidupnya.
Kisah gundah Nakla, balita piatu yang kehilangan pelukan ibu sejak dini, sebelumnya sempat memanggil empati publik melalui linimasa media sosial. Gelombang keprihatinan itu sampai ke sanubari jajaran Polisi Wanita (Polwan) dan Bhayangkari Polres Bulukumba, yang kemudian bergerak memeluk duka tersebut secara nyata.
Retakan Asa dan Ujian yang Bertumpuk
Perjuangan Nakla tidak berjalan seorang diri, namun ditopang oleh raga sang nenek yang kian rapuh. Selama ini, sang nenek menjadi satu-satunya benteng perlindungan tempat Nakla bersandar setelah kepergian ibundanya. Namun, roda ketahanan manusia ada batasnya.
Bersamaan dengan kondisi Nakla yang harus mendapatkan penanganan intensif di ICU, sang nenek pun runtuh oleh kelelahan dan guncangan batin. Di hari yang sama, ia harus dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD H.A. Sultan Daeng Radja akibat penurunan kondisi kesehatan yang drastis. Sebuah potret kemalangan bertumpuk yang mengetuk ketulusan siapa saja yang menyaksikannya.
Menghadirkan Senyum melalui Penawar Duka
Hadir menyapa di selasar rumah sakit, rombongan Polwan dan Bhayangkari Polres Bulukumba tidak sekadar membawa uluran tangan finansial dan logistik. Mereka menyertakan dua buah boneka cantik—simbol sederhana dari sebuah kehangatan yang ingin dititipkan kepada jemari mungil Nakla.
Ipda Nuraeni, S.H., yang memimpin aksi kemanusiaan tersebut, menatap sayu balita mungil yang masih tertidur dalam perawatan dokter. Bagi jajaran korps seragam cokelat ini, kunjungan tersebut adalah panggilan nurani untuk hadir di garis depan kemanusiaan.
“Kami datang membawa senandung doa dan sedikit penawar beban untuk Adik Nakla serta sang nenek. Kami ingin keluarga ini merasa tidak sendirian meniti jalan terjal ini,” tutur Ipda Nuraeni dengan nada lembut.
Rangkaian Doa untuk Keteguhan Hati
Tim medis RSUD H.A. Sultan Daeng Radja kini terus berjibaku memberikan tindakan terbaik demi menstabilkan kondisi fisik Nakla dan neneknya. Di luar ikhtiar medis, Ipda Nuraeni memanjatkan selarik doa dan mengajak segenap lapisan masyarakat untuk turut merajut harapan bagi kesembuhan mereka.
“Mari kita bersama-sama mengetuk pintu langit, memohonkan kesembuhan, kekuatan, serta kedamaian bagi Adik Nakla dan neneknya. Semoga tiap proses pengobatan dipermudah hingga mereka dapat kembali pulang dengan senyum yang utuh,” ucap Ipda Nuraeni memungkas.
Aksi sederhana yang berlandaskan ketulusan ini menjadi pengingat bahwa di tengah riuk-pikuk dunia, kasih sayang adalah bahasa paling universal yang mampu menyembuhkan luka yang tak kasat mata.*






