OPINI  

Standar Akademik Universitas Dinikmati Pelajar Sekolah

Avatar photo

Apakah Anda pernah membayangkan pelajar SD dan SMP yang belajar mau mengerjakan buku latihan setebal hampir 600 halaman?

Kelompok kecil dari pelajar ini melakukannya: Ada yang sudah tamat dan memasuki buku kedua dan ada juga yang masih sedang berproses menamatkan buku pertama. Ide ini lahir dengan maksud mencetak pelajar yang bisa aktif dalam pergaulan dunia.

Keyakinan apa yang ditanamkan? Literasi. Setiap buku didominasi dengan latihan soal esai, bukan pilihan ganda. Esai menuntut pemahaman untuk menuliskan jawaban, sedangkan pilihan ganda memungkinkan untuk menemukan jawaban yang benar dengan tebak-tebakan. Tentu saja, pilihan ganda itu tetap diajarkan dengan porsi sekitar 5 sampai 10 persen agar para pelajar ini tidak kaget melihat ujian pilihan ganda juga. Ini biasanya hadir pada akhir di setiap bab, setelah pemahaman soal esai selesai dikerjakan. Satu tambahan berikutnya, soal error analysis (analisis yang salah), sebuah bentuk soal TOEFL (Test of English as A Foreign Language).

Muhammad Sandy Junandra (Andra) seorang pelajar kelas 2 SMP aktif mengerjakan buku kedua, Pre-Intermediate Grammar. Sebenarnya, ketika ia mendalami buku Fundamentals of English Grammar karya Betty Schrampfer Azar adalah hal yang biasa saja karena otaknya sudah sampai pada tahap itu. Namun, bila kita merujuk Pusat Pelatihan Bahasa di Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta sebelum tahun 2010, mahasiswa S-2 yang mengikuti pelatihan TOEFL sekitar enam bulan diwajibkan mengerjakan buku yang dikerjakan Andra sekarang ini. Contoh menjelang 2010 memang tidak relevan, tetapi pada 2026, masih sangat sedikit pelajar sekolah yang sanggup mengerjakan buku itu secara terstruktur.

Baca Juga:  ANDI SUKRIADI TERPILIH KETUA IKA SMAN 3 BULUKUMBA

Bila kita membandingkan dengan mahasiswa S-2, bukankah ini capaian yang sangat berharga ketika para pelajar SMP seperti Andra dan semua rekan-rekan selevel dengannya dinyatakan layak mengkaji buku tahap kedua itu telah melakukan terobosan di luar dari kelaziman pelajar Indonesia? Lagi pula, hanya para pelajar yang menamatkan buku basic yang boleh melangkah ke tahap selanjutnya. Inilah proses belajar yang kami yakini untuk mencetak pelajar kelas dunia: pemahaman utuh, tidak sepotong-potong. Para pengajar di Rumah Belajar Bersama (RBB) sangat bersyukur menemukan para pelajar yang berbakat ini sehingga mereka sesekali memberikan penjelasan yang sedikit melampaui buku tahap kedua tersebut.

Tatkala berbagi ilmu dengan para pelajar ini, penulis sempat bertanya, “Apa kendala kalian?”

Hilal, pelajar SD, menjawab, “Tidak ada. Ini gampang, Mister,” katanya percaya diri sampai menggerakkan pena di atas lembaran soal pada bukunya.

Baca Juga:  Musyawarah Besar Pertama Ikatan Alumni SMA Negeri 3 Bulukumba Digelar

“Yakin? Kalian kan ini cuma jago grammar aja, tetapi tidak pernah ikut kelas Speaking dan Reading (percakapan dan Membaca) yang serius seperti kelasmu ini,” serang penulis dengan halus.

“Tapi tidak perlu khawatir. Saya ada ide. Bagaimana kalau setiap selesai membaca mengerjakan satu latihan, kalian membaca latihan itu dengan suara nyaring secara perorangan? Soal grammar itu juga banyak berisi percakapan. Itu kalian buat komunikasi dua arah secara berpasangan,” tantang penulis. “Saya yakin bahwa bukan hanya pemahaman grammar yang lebih mendalam, tetapi kemampuan speaking kalian juga akan sangat terasah. Kenapa? Karena bahan-bahanmu ini penuh dengan praktik yang berstandar akademik internasional. Bila tiba waktunya, kalian tidak perlu canggung lagi untuk berbicara di forum pertemuan pelajar, mahasiswa atau kegiatan apa pun di tingkat dunia.”

 

Mereka menimbang-nimbang, berbicara sejenak sesama rekan, dan kemudian menyatakan sepakat.

Tiba-tiba, terjadi perubahan pola belajar. Setiap satu latihan selesai, mereka menyerahkan bukunya ke guru untuk diperiksa. Setelah itu, mereka praktik seorang diri membaca dengan suara nyaring. Aktivitas yang sibuk ini berlangsung lebih dari satu jam.

Sekitar 25 menit sebelum jam belajar selesai, sebagian pelajar minta pulang dengan alasan menjelang Maghrib. “Cerdik juga ini, anak-anak,” pikir penulis. “Siapa yang membaca buku bahasa Inggrisnya bila sudah ada di rumah? Tolong, angkat tangan,” kata penulis.

Baca Juga:  Musyawarah Besar Pertama Ikatan Alumni SMA Negeri 3 Bulukumba Digelar

Semua jujur tidak membaca. Alasannya bervariasi, main game hingga pergi olahraga sepak bola.

“Kapan lagi kalian mau belajar selain di Rumah Belajar Bersama (RBB) ini? Kita lanjutkan pelajaran selama 15 menit sebagai pengganti pelajaran Inggris kalian di rumah,” terang penulis.

Andra dan Fardan angkat tangan, “Boleh izin pergi shalat Ashar, Mister?” tanya mereka dengan nada serius.

“Tentu bolehlah,” balas penulis. Kedua anak kembali dari masjid tepat ketika jam belajar selesai. Mereka pulang bersamaan dengan para pelajar lainnya.

Di balik dinamika menggemaskan dari kisah perjalanan belajar anak-anak ini, mereka sedang menerobos kemustahilan yang jarang dilakukan oleh anak-anak seumuran mereka. Sebagian masih berjuang menuntaskan 600 halaman dan sebagian lagi terus melangkah ke 600 halaman berikutnya. Kita juga melihat bahwa pembatas usia bukan halangan. Malahan, kapasitas yang andal dibangun sejak masa sekolah. Semua itu adalah berlandaskan pada ilmu pengetahuan sehingga cara pandang kita lebih terbuka, bukan katak dalam tempurung. Investasi atau ‘paspor’ menuju panggung internasional. Investasi ini adalah ‘paspor’ menuju panggung internasional yang sesungguhnya.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu 1 November 2026