INDEF Buka Data, MBG Jadi Senjata SDM Masa Depan

Avatar photo
Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti. Foto Undip
Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti. Foto Undip

PENA Times – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki peran strategis dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) tanpa menggerus ketahanan fiskal negara.

Penilaian tersebut disampaikan Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti berdasarkan hasil riset bersama United Nations Department of Economic and Social Affairs menggunakan Model Overlapping Generation Indonesia.

Program MBG dipandang sebagai kebijakan berorientasi jangka panjang yang dampaknya tidak ditujukan untuk mendorong lonjakan pertumbuhan ekonomi dalam waktu singkat.

“MBG bukan kebijakan yang didesain untuk mendorong lonjakan pertumbuhan dalam waktu singkat. Ini adalah investasi modal manusia yang manfaatnya baru optimal ketika generasi penerima memasuki usia produktif,” kata Esther.

Baca Juga:  Bulukumba Mulai Tancap Gas Perluasan MBG hingga Ibu Hamil

Investasi SDM Berbasis Data

INDEF menilai urgensi MBG berkaitan langsung dengan persoalan gizi nasional yang masih bersifat struktural di berbagai wilayah Indonesia.

Laju penurunan stunting tercatat melambat dan masih berada di atas batas yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia.

Masalah anemia pada ibu hamil, kekurangan energi kronis, serta beban gizi ganda pada anak dan remaja turut memperkuat kebutuhan intervensi gizi berkelanjutan.

Kajian INDEF memodelkan MBG sebagai bantuan non-tunai bagi anak usia 0 hingga 18 tahun dengan nilai sekitar Rp799.371 per anak per tahun pada harga 2025.

Skema pembiayaan diasumsikan berasal dari realokasi belanja negara sehingga tidak menambah defisit anggaran.

Produktivitas tenaga kerja meningkat melalui jalur kesehatan yang mulai terlihat dua tahun setelah program berjalan serta jalur pendidikan yang efeknya muncul sekitar enam tahun kemudian.

Baca Juga:  Terobosan Kuat PTPN IV PalmCo, Hilirisasi Ayam Perkuat MBG

Simulasi menunjukkan produktivitas tenaga kerja naik sekitar 0,7 persen pada tahun keenam pelaksanaan program.

Produk Domestik Bruto terdorong secara moderat dengan puncak kenaikan sekitar 0,15 hingga 0,17 persen pada awal 2040-an.

Dalam jangka panjang, level output ekonomi kembali ke lintasan keseimbangan, sementara konsumsi rumah tangga tetap mengalami peningkatan.

Fiskal Tetap Terkendali

INDEF mencatat konsumsi rumah tangga naik sekitar 0,04 hingga 0,05 persen dalam jangka panjang.

Penawaran tenaga kerja hanya turun sangat tipis, kurang dari 0,06 persen, terutama pada kelompok pendapatan terbawah.

Rasio utang terhadap PDB dalam simulasi tetap stabil di kisaran 50 persen tanpa perubahan struktural.

Baca Juga:  Program MBG Prabowo Bikin Ekonomi Bergerak dari Desa ke Kota

Rasio penerimaan pajak dan belanja pemerintah terhadap PDB juga tidak mengalami pergeseran permanen.

Desain pembiayaan netral terhadap defisit dinilai menjadi faktor kunci keberlanjutan program.

INDEF mendorong pelaksanaan MBG difokuskan pada wilayah dan kelompok usia dengan risiko gizi tertinggi.

Program MBG juga dinilai perlu terintegrasi dengan kebijakan pendidikan, vokasi, dan pengembangan keterampilan tenaga kerja.

Evaluasi kebijakan disarankan berfokus pada dampak jangka panjang, bukan sekadar tingkat penyerapan anggaran.

Terkait tingkat kepuasan publik terhadap MBG, INDEF menilai angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati dan berbasis metodologi yang jelas.

Esther menilai kepuasan publik tidak meniadakan tantangan implementasi yang masih perlu dibenahi secara berkelanjutan.***