RAGAM  

Jambore Pelayanan Publik Bulukumba: Panggung Literasi Anak

Avatar photo
Foto: Murid PAUD Kabupaten Bulukumba tampil membacakan dongeng kapal Pinisi di panggung Jambore Pelayanan Publik Lapangan Jawi-Jawi/Penatimes/

“Di bawah langit Bulukumba yang hangat, suara-suara mungil anak PAUD menjelma gelombang puitis, menghidupkan kisah leluhur dan merawat bumi lewat ketulusan dongeng.”

PENATIMES, BULUKUMBA — Jambore Pelayanan Publik (JPP) Kabupaten Bulukumba menyimpan lembar-lembar kisah yang melampaui sekadar urusan birokrasi. Di Kecamatan Bulukumpa, ruang-ruang pelayanan publik berpadu harmonis dengan denyut imajinasi anak-anak usia dini.

Menyemai Keberanian di Ruang Terbuka

Hari kedua gelaran akbar di Lapangan Jawi-Jawi mendadak diselimuti kehangatan yang berbeda. Para murid PAUD melangkah ke panggung publik bukan sekadar bertamasya, melainkan merajut keberanian di hadapan khalayak luas.

Ketua Pokja Bunda PAUD Kabupaten Bulukumba, Andi Andriani Tahir, menuturkan bahwa perhelatan ini bertindak sebagai jendela dunia luar bagi anak-anak. Ruang publik bertransformasi menjadi ruang belajar yang hidup, di mana mereka dapat menyaksikan denyut pelayanan pemerintah secara langsung.

Baca Juga:  Waspada Manipulasi AI di Pemilu, Polres dan Bawaslu Bulukumba Ambil Langkah Preventif

“Kegiatan ini bagaikan sebuah perjalanan batin dan raga bagi anak-anak. Mereka belajar menatap dunia luar, melatih suara agar berani mengalun, serta meresapi denyut pelayanan yang digagas oleh pemerintah daerah,” ujar Andi Andriani Tahir.

Menenun Warisan Bahari Lewat Kata

Langkah edukatif tersebut menemukan bentuk nyatanya melalui program “Satu Guru Satu Buku” (Sagu Sabu). Melalui gerakan ini, para pendidik PAUD didorong untuk menorehkan karya sastra anak yang berakar kuat pada kearifan lokal.

Baca Juga:  Polres Bulukumba Perketat Pengawasan Kebersihan Mako Pelayanan

Sawqiah, bocah berusia enam tahun dari TK Pertiwi Tanete, melangkah anggun ke muka panggung. Suaranya yang jernih menuturkan kemegahan kapal Pinisi, menanamkan benih kebanggaan terhadap warisan maritim tanah leluhur sejak belia.

Tak ketinggalan, Astrid Yuliani dari TK Al Khaerul Bonto Bulaeng mempersembahkan karya tulisnya sendiri yang bertajuk Menanti Layar Pinisi di Tepi Pantai Bira. Dongeng tersebut mengalirkan aroma laut dan deburan ombak ke dalam imajinasi anak-anak, merapatkan jarak antara sastra dan realitas pesisir Bulukumba.

Aksi Nyata Merawat Ibu Pertiwi

Keceriaan hari itu tidak berhenti pada untaian kata dan tepuk tangan penonton. Usai panggung mendongeng mereda, tangan-tangan mungil tersebut bergerak serentak memungut helai demi helai sampah di sekitar arena perhelatan.

Baca Juga:  Di Balik Aksi Damkar Bulukumba, Kehilangan Ponsel dan Shalat di Atas Mobil

Sebuah pelajaran moral yang merasuk tanpa menggurui. Pungut-memungut sampah di rumput lapangan menjadi ritus sederhana untuk menanamkan cinta lingkungan, membisikkan pesan abadi bahwa merawat bumi adalah tugas setiap insan sejak fajar usia menyingsing.

Jambore Pelayanan Publik Kabupaten Bulukumba pun membuktikan diri sebagai oase yang utuh. Di balik deretan stan pelayanan warga, terselip taman-taman kecerdasan yang menyiapkan generasi masa depan dengan bekal kelembutan nurani dan keteguhan budaya.*