Jangan Hanya Manis saat Dinilai! Bupati Bulukumba Tegaskan Mutu Layanan Rumah Sakit Harus Hidup Setiap Hari

Avatar photo
Foto: Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf bersama tim surveior LAM-KPRS dalam pembukaan akreditasi RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja/Penatimes/

“Menenun integritas di balik dinding rumah sakit, merawat nyawa melampaui selembar kertas penilaian.”

PENATIMES, BULUKUMBA – Gedung-gedung megah dan deretan alat medis berteknologi tinggi sering kali mengecoh mata. Namun, di balik dinding kokoh itu, denyut kemanusiaan yang sesungguhnya diukur dari seberapa tulus tangan-tangan penolong merawat mereka yang rapuh.

Prinsip inilah yang menggema di ruang pertemuan RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja, Bulukumba. Di bawah langit senja Senin, 2 November 2026, lembaran baru dibuka bukan sekadar untuk mengejar angka, melainkan merajut ulang martabat pelayanan.

Menolak Topeng Penilaian Berkala

Kehadiran Tim Surveior Lembaga Akreditasi Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit (LAM-KPRS) disambut hangat oleh jajaran pemerintah daerah. Sekretaris Daerah selaku Ketua Dewan Pengawas Muhammad Ali Saleng, Kepala Dinas Kesehatan dr. Amrullah, serta para dokter spesialis turut membersamai langkah awal ini.

Baca Juga:  Jejak Pena Andi Utta di Claro Hotel: Menjaga Kepastian Investasi dan Garis Garis Kehidupan Bulukumba

Namun, Bupati Bulukumba, H. Andi Muchtar Ali Yusuf, mengingatkan dengan suara yang tegas nan menggugah. Ia menolak keras jika akreditasi hanya dijadikan panggung sandiwara musiman—sebuah topeng elok yang dikenakan hanya saat pengawas datang.

“Jangan sampai kita hanya terlihat baik ketika ada tim penilai yang datang, tetapi kembali pada kebiasaan lama setelah kegiatan ini selesai,” ujar Bupati Andi Muchtar dengan penuh penekanan.

Bagi sang pemimpin, standar mutu dan keselamatan pasien bukanlah tamu asing yang disuguhi hidangan istimewa saat mampir. Ia harus menjadi napas harian, mengalir dalam setiap detak denyut nadi organisasi rumah sakit.

Baca Juga:  Pinisi Bulukumba Siap Berlayar ke Labuan Bajo Usai Peluncuran

Suara dari Tim Pengawas: Bekerja karena Panggilan Jiwa

Di sisi lain, Ketua Tim Surveior LAM-KPRS, dr. Hadarati Razak, M.Kes, bersama dr. Aryanti R. Bamahry dan Ns. Erna Marini, bersiap menelisik setiap sudut pelayanan selama dua hari ke depan, 2 hingga 3 November 2026.

Bagi dr. Hadarati, angka-angka dalam sertifikat kelulusan kehilangan makna jika lantai rumah sakit masih menyisakan keluh kesah pasien yang terabaikan.

“Kita bekerja bukan karena nilai, tetapi bagaimana menjadikan standar akreditasi sebagai budaya kerja,” tuturnya lembut namun menghentak kesadaran.

Baca Juga:  Polsek Bontobahari Gencarkan Edukasi Bahaya Narkoba di Sekolah

Lembaga independen yang dinaunginya berfokus pada output dan outcome nyata—menghadirkan sistem berbasis digital yang merata, terjangkau, dan berakar pada kepuasan sejati masyarakat.

Pelayanan dengan Hati Tanpa Sekat

Menutup rangkaian pembukaan, sebuah pesan kemanusiaan dititipkan kepada seluruh tenaga kesehatan di Bulukumba. Profesionalisme medis yang dingin harus dilebur bersama kehangatan empati.

Sebab, di hadapan penderitaan, tidak ada ruang untuk sekat-sekat pembeda. Setiap warga yang datang menanggung lara berhak mendapatkan uluran tangan yang cepat, tepat, dan penuh kasih.

Di sinilah pertaruhan sesungguhnya bermula: membuktikan bahwa RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja bukan sekadar tempat menyembuhkan raga, melainkan rumah yang memeluk harapan.*