Pinisi Bulukumba Siap Berlayar ke Labuan Bajo Usai Peluncuran

Avatar photo
Foto: Prosesi peluncuran kapal pinisi sepanjang 25 meter melalui tradisi annyorong lopi di Bira Bulukumba sebelum dikirim ke Labuan Bajo/Penatimes/

PENATIMES, BULUKUMBA — Satu unit kapal pinisi berukuran panjang 25 meter dan lebar 5 meter resmi diluncurkan ke laut melalui tradisi annyorong lopi di bantilang Panrang Luhu, Desa Bira, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Jumat, 16 Oktober 2026. Kapal kayu buatan pengrajin lokal tersebut dijadwalkan langsung berlayar menuju Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, untuk memenuhi kebutuhan armada wisata berlayar (sailing) dan penyelaman (diving).

Peluncuran kapal ini menjadi agenda utama rangkaian Festival Pinisi XVI Tahun 2026. Proses pengerjaan konstruksi kapal tersebut menghabiskan waktu selama enam bulan, terhitung sejak Mei hingga rampung pada Oktober 2026.

Komersialisasi Kapal Pinisi untuk Sektor Wisata Bahari

Pemilik kapal sekaligus pengelola bantilang Panrang Luhu, H. Ariawan, mengonfirmasi bahwa unit yang baru diselesaikan tersebut ditujukan khusus untuk memperkuat fasilitas pariwisata bahari di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga:  Tradisi Annyorong Lopi Kembali Digelar, Cek Jadwal Lengkap Festival Pinisi XVI

“Kapal ini mau dibawa ke Labuan Bajo untuk keperluan wisata sailing,” kata Ariawan di lokasi pembuatan kapal, Desa Bira. Ia menambahkan bahwa seluruh tahapan perakitan hingga penyelesaian akhir membutuhkan waktu konstan selama setengah tahun.

Pemanfaatan kapal hasil karya pengrajin Bontobahari di destinasi strategis nasional seperti Labuan Bajo mempertegas peran industri pembuatan kapal tradisional Bulukumba dalam rantai pasok pariwisata maritim Indonesia. Secara historis, seni pembuatan kapal pinisi di Bulukumba telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada 8 Desember 2017, yang menguatkan standar kualitas perahu kayu asal daerah ini di pasar internasional.

Baca Juga:  Butta Panrita Lopi FunRun Siap Meriahkan Reuni Akbar Alumni SMAN 3 Bulukumba 2026

Pergeseran Teknologi Peluncuran dan Nilai Tradisi Annyorong Lopi

Rangkaian peluncuran perahu ke laut (annyorong lopi) pada pelaksanaan tahun ini mulai mengombinasikan metode tradisional dengan alat bantu teknis. Pendorongan armada yang sebelumnya dilakukan murni secara manual menggunakan tarikan tali tambang oleh puluhan warga kini dibantu teknologi katrol untuk menggeser badan kapal menuju perairan.

Prosesi tersebut disaksikan langsung oleh belasan wisatawan asing asal Kanada, Jepang, Prancis, Belgia, hingga El Salvador, serta dihadiri Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf, Wakil Bupati Andi Edy Manaf, jajaran Forkopimda, dan perwakilan Kementerian Pariwisata.

Baca Juga:  Tundukkan SMAN 11, SMAN 5 Bulukumba Sabet Gelar Juara LPI 2026

Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf, menyatakan bahwa ritual peluncuran perahu mencerminkan prinsip gotong royong serta etos kerja masyarakat maritim setempat. “Ini bukti kebersamaan dan etos kerja masyarakat Bulukumba. Pinisi sarat dengan kearifan lokal. Di sini menjadi bukti kekompakan,” ujar Andi Muchtar.

Sebelum proses pendorongan kapal berlangsung, budayawan Bulukumba, Andi Abdul Karim (Andhika Mappasomba), menyampaikan narasi filosofis mengenai sejarah annyorong lopi. Ia menyoroti pentingnya transmisi pengetahuan dan nilai tradisi Bontobahari kepada generasi muda agar nilai historis prosesi pembuatan kapal tradisional tetap terjaga di tengah modernisasi alat produksi.*