DUNIA  

Pengamat: Pasukan Indonesia di Gaza Usik Koalisi Netanyahu

Avatar photo
Apel TNI
Apel TNI

PENA Times – Rencana Indonesia mengirim hingga 8.000 personel pasukan perdamaian ke Gaza dinilai memicu kegelisahan kelompok garis keras di Tel Aviv, Israel.

Pengiriman pasukan Indonesia sebagai bagian dari International Stabilisation Force dipandang berpotensi melemahkan kendali Israel Defense Forces atas wilayah Gaza.

Pengamat militer sekaligus Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies, Khairul Fahmi, menilai kehadiran pasukan Indonesia berlawanan langsung dengan agenda faksi kanan Israel.

“Tujuan akhir faksi kanan ini jelas, yaitu membangun kembali permukiman Yahudi di atas puing-puing Gaza, dan kehadiran 8.000 tentara Indonesia adalah antitesis mutlak dari skenario tersebut,” kata Khairul.

Baca Juga:  Strategi Mosaic Defence (Doktrin Pertahanan Mozaik) Iran

Ia menjelaskan bahwa kehadiran pasukan asing dari negara yang tidak mengakui Israel akan menjadi penghalang fisik sekaligus politik bagi ambisi tersebut.

Posisi Strategis Pasukan Indonesia

Laporan intelijen yang dikutip The Guardian menyebutkan pasukan Indonesia direncanakan menempati barak di wilayah selatan Gaza, di antara Rafah dan Khan Younis.

Menurut Khairul, kawasan tersebut merupakan choke point strategis yang menentukan arus kendali wilayah dan pergerakan penduduk.

Ia menilai keberadaan ribuan personel Tentara Nasional Indonesia di koridor itu dapat memutus rantai kontrol Israel serta menghambat upaya pengusiran warga Palestina.

Baca Juga:  Jutaan Warga Iran Berduka atas Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei

Pasukan Indonesia di lapangan dinilai tidak hanya berperan sebagai penjaga perdamaian, tetapi juga penanda batas wilayah yang secara de facto menegaskan kedaulatan Gaza.

Khairul menyebut kehadiran tersebut sebagai penghalang geopolitik yang membuat sayap kanan Israel merasa terancam.

Laporan bersama The Guardian dan Radio Publik Israel pada 10 Februari mengungkap penolakan keras tokoh-tokoh sayap kanan Israel terhadap rencana keterlibatan Indonesia.

Baca Juga:  Jet Tempur Israel Serang Rafah, Gencatan Senjata Kembali Dilanggar

Penolakan itu disebut menguatkan pandangan Moshe Phillips, pemimpin Americans For A Safe Israel, yang menyebut kehadiran pasukan Indonesia sebagai kesalahan strategis bagi Israel.

Phillips secara terbuka menilai Indonesia memiliki kecenderungan politik yang terlalu berpihak pada Palestina sehingga kehadirannya dianggap merugikan kepentingan Israel.

Fakta tersebut dinilai sekaligus membantah narasi kelompok skeptis yang menyebut Indonesia tengah masuk ke dalam jebakan Amerika Serikat.

Rencana pengiriman pasukan Indonesia justru memicu resistensi kuat di kalangan faksi sayap kanan koalisi pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ***