DUNIA  

Ini 4 Jurnalis Al Jazeera yang Gugur dalam Satu Serangan Israel di Gaza

Avatar photo
Jurnalis tewas di Gaza. Foto Al Jazeera
Jurnalis tewas di Gaza. Foto Al Jazeera

Penatimes.com  – Lima jurnalis Al Jazeera dilaporkan tmeninggal dunia dalam serangan Israel yang menghantam tenda media di luar gerbang utama Rumah Sakit al-Shifa, Kota Gaza, Minggu (10/8) malam waktu setempat.

Serangan menggunakan drone tersebut terjadi sekitar pukul 23.35 waktu setempat (20.35 GMT) dan menewaskan tujuh orang, termasuk empat jurnalis Al Jazeera lainnya.

Dikutip penatimes.com/ dari halaman resmi AlJazeera.com, korban jiwa di antaranya Anas al-Sharif (28), Mohammed Qreiqeh (33), serta juru kamera Ibrahim Zaher (25) dan Mohammed Noufal (29).

Baca Juga:  Jet Tempur Israel Serang Rafah, Gencatan Senjata Kembali Dilanggar

Serangan itu disebut sebagai serangan yang disengaja terhadap jurnalis yang tengah meliput di lokasi.

Al Jazeera menyatakan kematian rekan-rekannya ini merupakan serangan terang-terangan dan terencana terhadap kebebasan pers.

Pihaknya menegaskan bahwa para korban adalah di antara sedikit jurnalis yang masih melaporkan kondisi di Gaza, di tengah larangan Israel terhadap media internasional masuk ke wilayah tersebut.

Baca Juga:  Pengamat: Pasukan Indonesia di Gaza Usik Koalisi Netanyahu

PBB melalui juru bicara Sekjen Antonio Guterres menyerukan investigasi, sementara Amnesty International mengutuk peristiwa tersebut sebagai kejahatan perang.

Amnesty juga menyebut al-Sharif sebagai jurnalis pemberani yang pernah meraih Human Rights Defender Award 2024.

Sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, Gaza menjadi konflik paling mematikan bagi jurnalis.

Data Reporters Without Borders (RSF) menunjukkan lebih dari 120 jurnalis meninggal pada 2024, dan lebih dari 50 di antaranya terbunuh di Gaza pada tahun ini.

Baca Juga:  Pengamat: Pasukan Indonesia di Gaza Usik Koalisi Netanyahu

Situs pemantau Shireen.ps mencatat total hampir 270 jurnalis dan pekerja media gugur dalam 22 bulan terakhir, atau rata-rata 13 orang per bulan.

Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) memperingatkan bahwa pembunuhan dan penahanan jurnalis sejak Oktober 2023 menciptakan kekosongan informasi yang berpotensi menutup bukti kejahatan perang.

Meski ada kecaman internasional, penargetan jurnalis di Gaza terus berlanjut. ***