DUNIA  

Serangan AS-Israel ke Sekolah Iran, 148 Orang Tewas

Avatar photo
Puing bangunan sekolah dasar perempuan di Hormozgan, Iran selatan, usai serangan udara yang menewaskan ratusan korban sipil. Foto ist
Puing bangunan sekolah dasar perempuan di Hormozgan, Iran selatan, usai serangan udara yang menewaskan ratusan korban sipil. Foto ist

PENA Times – Jumlah korban tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke sebuah sekolah dasar perempuan di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, dilaporkan meningkat drastis hingga 148 orang.

Kabar tersebut disampaikan kantor berita semi-resmi Tasnim pada Minggu, mengutip pernyataan otoritas penegak hukum setempat.

Jaksa lokal Ebrahim Taheri menyebut sedikitnya 95 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Baca Juga:  Begini Mekanisme Suksesi Pengganti Ayatollah Ali Khamenei di Iran

Ia menjelaskan bahwa sebagian besar korban meninggal merupakan murid sekolah dasar, sementara guru, staf sekolah, serta orang tua siswa juga termasuk dalam daftar korban.

Sekolah yang menjadi sasaran berada di salah satu wilayah pemukiman padat di Provinsi Hormozgan.

Serangan Gabungan AS Israel

Serangan mematikan ini terjadi setelah militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi udara bersama pada Sabtu pagi.

Baca Juga:  RI-AS Sepakati Tarif Nol untuk 1.819 Produk

Operasi tersebut menyasar sejumlah kota strategis Iran, termasuk Teheran, Tabriz, Qom, Isfahan, Kermanshah, dan Karaj.

Pemerintah Iran merespons dengan meluncurkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Dalam rangkaian serangan di Teheran, otoritas Iran sebelumnya mengonfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Baca Juga:  Mengenal Ayatollah Alireza Arafi, Pemimpin Tertinggi Iran Sementara

Selain Khamenei, Sekretaris Dewan Pertahanan Iran Ali Shamkhani dan Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Mohammad Pakpour juga dilaporkan meninggal dunia.

Eskalasi ini memperparah situasi keamanan regional dan memicu kecaman luas atas jatuhnya korban sipil, terutama anak-anak.