PENATIMES, BULUKUMBA — Pemerintah Kabupaten Bulukumba didorong segera melakukan pendokumentasian secara komprehensif terhadap pengetahuan maritim dan ilmu pelayaran tanpa mesin milik para panrita (maestro pembuat kapal) serta pelaut senior Bontobahari sebelum literasi lisan tersebut hilang.
Desakan tersebut mengemuka di tengah pelaksanaan prosesi annyorong lopi (peluncuran kapal) pada Festival Pinisi XVI Tahun 2026 di bantilang Panrang Luhu, Desa Bira, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Jumat (16/10/2026).
Seni pembuatan kapal pinisi sendiri telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia sejak tahun 2017. Namun, sistem pewarisan pengetahuan teknis maupun keilmuan navigasi tradisionalnya sejauh ini masih bergantung pada tradisi tutur di bantilang (galangan kapal tradisional).
Budayawan Bulukumba, Andi Abdul Karim (Andhika Mappasomba), menyatakan bahwa pusat-pusat pembuatan kapal di Bontobahari tidak hanya berfungsi sebagai bengkel fisik, tetapi juga ruang pendidikan tradisional yang menyimpan metodologi teknis dan nilai spiritual.
“Penting dilakukan pendokumentasian sebelum para pemilik pengetahuan tersebut meninggal dunia, sehingga pengalaman dan keterampilan mereka tidak ikut hilang bersama berlalunya waktu,” ujar Andhika saat menyampaikan narasi budaya di hadapan jajaran pemerintah daerah dan wisatawan mancanegara.
Teknik Presisi Konstruksi dan Rekam Pelayaran Tanpa Mesin
Konstruksi perahu tradisional Bontobahari mengandalkan tingkat presisi tinggi tanpa cetak biru tertulis. Penempatan setiap bagian struktur kayu memegang peranan krusial terhadap daya tahan kapal saat menerima beban gelombang laut.
Dalam tradisi annyorong lopi, sorakan kolektif seperti sammaratangna dan taraa tajonna bukan sekadar seruan kerja. Istilah taraa tajonna merujuk pada ketepatan posisi antar komponen kayu agar struktur tidak patah saat menerima dorongan massa menuju laut.
Pengetahuan maritim masyarakat setempat juga mencakup ilmu pakappala—kemampuan navigasi memanfaatkan arah angin dan arus tanpa bantuan mesin. Salah satu catatan sejarah kemampuan ini terbukti melalui pelayaran perahu tipe paddewakkang yang berhasil mencapai benua Australia pada masa lampau.
Nilai historis ketahanan kapal buatan Bontobahari juga terekam pada pelayaran kapal Pinisi Nusantara menuju Vancouver, Kanada, pada tahun 1986. Meski kapal tersebut kandas di Kepulauan Seribu pada 2002 saat dikelola TNI Angkatan Laut, bagian tiang layarnya diselamatkan dan kini tersimpan di Tanah Beru.
Pergeseran Metode Peluncuran dan Pemanfaatan Komersial
Tradisi annyorong lopi pada Festival Pinisi XVI 2026 memfasilitasi peluncuran kapal pinisi berukuran panjang 25 meter dan lebar 5 meter. Kapal tersebut diselesaikan dalam waktu enam bulan, terhitung sejak Mei hingga Oktober 2026.
Pelaksanaan peluncuran kapal saat ini telah mengadopsi bantuan teknologi katrol mekanis untuk menggerakkan badan kapal, bergeser dari metode penuh tarikan tangan secara manual.
Pemilik bantilang Panrang Luhu, H. Ariawan, mengonfirmasi bahwa unit kapal yang baru diluncurkan tersebut diproduksi untuk memenuhi kebutuhan industri pariwisata bahari di luar daerah.
“Kapal ini mau dibawa ke Labuan Bajo untuk keperluan wisata sailing,” kata H. Ariawan.
Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf, menilai prosesi peluncuran kapal menggambarkan modal sosial dan efektivitas kerja sama masyarakat lokal.
“Ini bukti kebersamaan dan etos kerja masyarakat Bulukumba. Pinisi sarat dengan kearifan lokal,” tutur Andi Muchtar.*






